Aku memperhatikannya.
Anak kecil itu berlarian di depanku, wajahnya tanpa ekspresi. Berkeliaran seakan tanpa arah.
Anak kecil itu tiba-tiba terjatuh,
Dia tidak menangis selayaknya biasa, ia mengusap lututnya lalu tertawa ke arahku.
Membalikkan wajahnya, berjalan lalu marah pada dirinya sendiri karena terjatuh.
Beberapa saat ia berlari lagi; tanpa arah.
Anak kecil itu berdiri di depanku, wajahnya bulat, matanya bulat menatapku. Mencium bibirku.
Anak kecil itu tiba-tiba terbatuk,
Dia tidak mengeluh selayaknya biasa, ia mengusap dadanya lalu tertawa kearahku.
Membalikkan wajahnya, berjalan lalu menyemangati dirinya sendiri yang sedang rapuh.
Beberapa saat ia berlari lagi; tanpa arah.
Anak kecil itu menertawaiku, bibirnya merah, pipinya merah, ia tertawa walau tampak marah.
Anak kecil itu tiba-tiba menangis,
Dia menangis dan mengeluh dengan luar biasa, menjambak rambutnya dan terkulai dihadapanku.
Aku diam, ia marah bila kubantu.
Sengguknya yang tertahan, pendaman makian. Semua tertahan memuncak dalam hati tak muncul di hadapan.
Hanya sesak yang dapat kurasakan dari kejauhan.
Anak itu..........
..........mati perlahan.
Showing posts with label Random. Show all posts
Showing posts with label Random. Show all posts
Tuesday, April 29, 2014
Sunday, January 19, 2014
CRASH
Gadis itu terkulai diatas tempat tidurnya. Hatinya luluh lantak. Matanya kosong tak bercahaya. Buliran-buliran air tak hentinya mengalir dari sepasang mata kecilnya.
Pikirannya mengawang. Tubuhnya lemas tak dapat ia gerakkan.
Semburat kekecewaan yang dalam terlukis diwajah pucatnya.
Beberapa hari ini terganggu pikirannya. Keadaan keluarganya tak stabil.
Kerinduannya akan kasih sayang, seakan menjadi puncaknya malam ini.
Kepura-pura tegarannya runtuh sudah. Kekuatan dan kedewasaannya yang ia kumpulkan sekian lama seakan tak bersisa. Hilang ditelan hujatan-hujatan untuk ibunya dalam semalam.
Jarak yang coba ia bangun untuk mendapatkan perspektif orang ketiga ternyata tidak cukup membuatnya berlaku adil, mengurangi kekecewaan atas keluarganya.
Kedewasaan yang ia tanamkan di pikirannya tak cukup mampu membuatnya lapang dada menerima keadaan.
Matanya kini terpejam, berusaha tertidur melupakan sakit. Berharap nanti ketika terbangun, keadaan kembali seperti semula. Disaat ia kecil, disaat keluarganya masih baik-baik saja.
Pejamnya tak mengobati. Pikirannya terusik, jauh fokus pada hujatan untuk ibunya. Hujatan yang keluar dari mulut ayahnya sendiri.
Betapa permasalahan bertambah keruh ketika orang yang bukan bagian turut ikut mengaduk luka.
Dadanya sesak, bersusah payah menahan tangis agar tak meledak.
Giginya ia katupkan sekeras ia bisa. Berusaha menguatkan hatinya yang penuh luka.
Bayangan keluarganya yang dulu bahagia berkelebat. Nafasnya mulai tersengal. Teriakannya tertahan giginya yang mengatup. Tubuhnya bergetar hebat. Bulir air matanya makin deras mengalir.
Lelah hatinya menahan perih keadaan dan berpura tegar, berdiri menguatkan banyak orang.
Gadis itu tak peduli lagi. Ia hanya ingin menangis sepuasnya.
Pikirannya mengawang. Tubuhnya lemas tak dapat ia gerakkan.
Semburat kekecewaan yang dalam terlukis diwajah pucatnya.
Beberapa hari ini terganggu pikirannya. Keadaan keluarganya tak stabil.
Kerinduannya akan kasih sayang, seakan menjadi puncaknya malam ini.
Kepura-pura tegarannya runtuh sudah. Kekuatan dan kedewasaannya yang ia kumpulkan sekian lama seakan tak bersisa. Hilang ditelan hujatan-hujatan untuk ibunya dalam semalam.
Jarak yang coba ia bangun untuk mendapatkan perspektif orang ketiga ternyata tidak cukup membuatnya berlaku adil, mengurangi kekecewaan atas keluarganya.
Kedewasaan yang ia tanamkan di pikirannya tak cukup mampu membuatnya lapang dada menerima keadaan.
Matanya kini terpejam, berusaha tertidur melupakan sakit. Berharap nanti ketika terbangun, keadaan kembali seperti semula. Disaat ia kecil, disaat keluarganya masih baik-baik saja.
Pejamnya tak mengobati. Pikirannya terusik, jauh fokus pada hujatan untuk ibunya. Hujatan yang keluar dari mulut ayahnya sendiri.
Betapa permasalahan bertambah keruh ketika orang yang bukan bagian turut ikut mengaduk luka.
Dadanya sesak, bersusah payah menahan tangis agar tak meledak.
Giginya ia katupkan sekeras ia bisa. Berusaha menguatkan hatinya yang penuh luka.
Bayangan keluarganya yang dulu bahagia berkelebat. Nafasnya mulai tersengal. Teriakannya tertahan giginya yang mengatup. Tubuhnya bergetar hebat. Bulir air matanya makin deras mengalir.
Lelah hatinya menahan perih keadaan dan berpura tegar, berdiri menguatkan banyak orang.
Gadis itu tak peduli lagi. Ia hanya ingin menangis sepuasnya.
Tuesday, January 7, 2014
Tersesat Kanan Kiri
Taulah saya seorang gadis muda meski sudah tak gadis.
Saya berada diantara dua gaya hidup yang sangat berbeda.
Sebutlah satu sisi kanan dan satu sisi kiri.
Sisi kanan kehidupan normal yang nyaman adanya. Penuh dengan pergaulan 'modern'. Penuh dengan teman dan pesta.
Saya tidak pernah menutup pergaulan saya. Menjaga; iya. Saya berusaha menyerap semampu saya semua pelajaran yang ada dilingkungan.
Pada awalnya otak saya sebagai gadis muda masih dipenuhi oleh kenikmatan.
Saya lebih suka keluar diatas jam 8 malam. Mencari keramaian, menikmati hingar bingar. Pergi ke club malam menikmati kebebasan pergaulan.
Itu ketika saya memilih untuk menikmati. Tapi..
Ada kalanya saya muak pada diri saya sendiri. Entah mengapa merasa gelisah.
Teman yang selalu diajak berpesta belum tentu datang seperti yang diharapkan saat berduka.
Jenuh adalah sebuah pilihan.
Saya tipikal orang yang mudah datang, mudah pergi, dan mudah kembali untuk pergi lagi.
Suka dengan pergaulan baru, dan mencoba untuk tidak terlalu lama hanya berada pada satu pergaulan.
Entah kenapa; hanya saja menurut saya semakin lama saya berdiam pada suatu pergaulan, semakin sering bersama, semakin dekat hingga terlalu dekat, akan semakin banyak masalah yang timbul. Ada saja yang menurut saya salah atau kurang; saya (cukup) egois dalam hal tersebut.
Kekurangan atau kesalahan tersebut akan saya cari kebenarannya dipergaulan yang lain. Begitu terus siklusnya.
(Siklus itu juga yang membuat saya merasa kesepian, karena merasa hanya memiliki banyak teman yang belum menjadi sahabat...yang saya sadar itu adalah kesalahan saya sendiri)
Kali ini saya ingin yang lain. Entah mungkin hati saya terpanggil atau hanya bosan dengan pergaulan biasa. Atau juga butuh sesuatu yang ekstrem untuk menghilangkan kejenuhan dari pergaulan sebelumnya.
Dan tibalah saya pada pergaulan kiri radikal, pergaulan yang berbanding terbalik dengan pergaulan kanan. Saya juga belum tahu pasti karena baru saja memulai.
Yang pasti di pergaulan kiri ini orang-orang sangat kritis terhadap sesuatu.
Mereka memiliki rasa empati yang besar terhadap 'keprihatinan'. Yang kurang dapat saya temukan pada pergaulan kanan.
(Sebenarnya pergaulan kanan pun memiliki rasa simpati terhadap sesuatu hanya saja masih jauh lebih mementingkan pribadi atau golongan, lebih individualistis.)
Pergaulan kiri ini memilih untuk lebih berpihak pada suara minoritas, pada rakyat kecil atau orang susah, dan mencoba hidup sederhana melawan kemewahan yang ditawarkan dunia.
Bila diumpamakan, pergaulan kiri seperti tangan kiri yang biasa digunakan untuk membersihkan hal kotor. Seperti membersihkan anus sehabis buang air besar; pekerjaan kotor, yang sebenarnya dilakukan demi kebaikan (kebersihan).
Begitu juga orang-orang dipergaulan kiri ini, menentang jalan normal untuk membersihkan kekotoran-kekotoran penguasa rakus..
Sebenarnya pergaulan kiri sudah pernah saya masuki ketika bertemu dengan para seniman. Hanya saja para seniman menunjukkan ke 'kiri'an mereka melalui karya abstrak yang tidak terlalu terlihat.
Sedangkan beberapa orang yang saya kenal saat ini adalah tipe radikal, yang menyuarakan kegelisahannya secara terang-terangan; aktivis.
Untuk seniman sendiri masih lebih mudah karena mereka tidak mencoba menjejali saya dengan sesuatu.
Mereka lebih suka menunjukan suatu keindahan (artistik) yang walaupun keindahan tersebut menyakitkan.
Dan keindahan lebih mudah diterima oleh orang seperti saya.
Berbeda dengan pergaulan kiri radikal ini.
Disini saya mencoba memutar kehidupan saya. Menjadi lebih sabar, mencoba mendengarkan penjelasan panjang lebar.
Ilmu politik, sosial, budaya, sejarah, antropologi, ekonomi rakyat dan berbagai macam.
Yang dulunya saya tak mau sentuh tak mau peduli dengan terpaksa harus saya mulai jamahi.
Pembicaraan mereka hampir semua tidak saya mengerti kecuali soal kerusakan lingkungan dan pendidikan anak.
Saya disarankan untuk membaca buku-buku tebal peneliti besar.
Saya bersabar mendengarkan diskusi-diskusi panjang lebar, yang memaksa saya duduk diam sampai pantat terasa ber-akar.
(Ada kalanya kepala saya terasa sakit, otak saya rasanya mau pecah, saking penuhnya pelajaran yang mereka berikan.)
Proses.
Saya tidak lantas mau mengikuti semuanya. Karena saya kaget dan masih merasa curiga.
Awalnya saya masuk karena penasaran pada suatu issue. Saya mencoba datang untuk mendengarkan beberapa penjelasan.
Yang anehnya walau dijelaskan berjam-jam saya belum bosan dan malah semakin penasaran.
Saya jadi semakin sering datang bertandang. Hanya untuk mendengarkan.
Sampai dirumah saya ingat kembali, saya coba cermati dan amati. Mencari info-info yang bisa saya dapat.
Dan akhirnya saya terjerumus dalam aksi radikal mereka.
Bukan tanpa alasan bukan tanpa pengetahuan. Tapi secara sadar.
Ada resiko besar di depan mata. Tapi perubahan yang terjadi di diri saya lebih besar, lebih mampu melahap ketakutan saya terhadap resiko tersebut.
Hampir satu minggu diawal perkenalan saya menginap di tempat mereka.
Hanya mendengarkan mereka berbicara beberapa hari saja ternyata membuat hati saya bergejolak entah kenapa.
Saya semakin penasaran.
Saya mencoba mulai membaca satu buku yang disarankan. Ternyata memang buku untuk pemula.
Hanya satu hari saya habiskan.
Buku itu semacam komik sejarah tentang perjuangan Che Guevara memimpin revolusi.
Saya semakin menggebu-gebu. Ada perubahan sudut pandang.
Proses masih berlangsung.
Saya mulai mencari tahu tentang apa yang mereka bicarakan.
Mulai aktif bertanya. Dan itu cukup membantu.
Efeknya; saya jadi semakin ingin tahu.
Semakin saya tahu, semakin saya merasa bodoh.
Kemana saja saya selama ini sampai tidak mengetahui hal-hal g(p)enting seperti itu?
Sempat beberapa kali sharing tentang keadaan pemerintahan, dan saya shock. Perasaan marah dan sedih menjadi satu. Entah hanya sensitif atau emosi menghadapi kenyataan yang jauh lebih mengerikan dari yang diberitakan media.
Saya bukannya menerima semua pembicaraan orang-orang pergaulan kiri ini secara mentah-mentah. Tapi saya telah coba buktikan sendiri.
Dan bahkan media sendiri kadang berulah, membuat saya kecewa.
Memutar balikkan fakta yang ada.
Lebih kecewa lagi ketika tau; media besar yang dipercaya rakyat ternyata dapat dibungkam demi kepentingan pribadi/golongan penguasa.
Mungkin sudah banyak orang yang tau pemutar balikkan fakta ini.
Yang saya heran, kenapa orang-orang yang lebih dulu tau ini tidak bergerak melawan? Hanya pasrah pada keadaan?
Atau malah... sudah dibungkam juga?
Saya terlalu penasaran.
Saya mencoba tetap berpikir seimbang.
Akhirnya saya mendapati musuh terlalu besar dan berkuasa. Terlalu beresiko untuk dilawan sendirian.
Saya kembali ke pergaulan kanan, mencoba membagi apa yang saya dapat dari teman-teman kiri.
Ketika kembali ke pergaulan kanan, belum masuk ke pembicaraan pokok, saya sudah merasa ada jarak diantara saya dan teman-teman pergaulan kanan yang dulu sangat dekat dengan saya.
Disini saya sadar, saya mulai berubah.
Tidak mudah untuk menyampaikan apa yang saya dapat dari pergaulan kiri ke pergaulan kanan.
Butuh proses.
Dan saya mendapati kebiasaan ketika seseorang merasa lebih tau ia akan menggebu-gebu dan sulit sekali mengontrol perasaan tersebut untuk bisa menyampaikan sesuatu tanpa menimbulkan rasa kontra berlebihan.
Saya terlalu emosi saat menyampaikan apa yang saya dapat, saya kesal karena mereka tak kunjung mengerti, tak kunjung sadar.
Dan kembali saya merasa bodoh.
Mengapa saya menggunakan emosi saat berbicara dan berdiskusi? Padahal saya adalah alumnus sekolah komunikasi. Saya merasa konyol.
Kembali saya belajar.
Untung saja teman-teman pergaulan kanan akhirnya bisa lebih sabar menghadapi saya yang sedang penuh gejolak.
Mereka akhirnya mau mengerti dan sependapat. Hanya saja belum berani untuk melawan secara langsung.
Menurut mereka; "setiap orang punya cara masing-masing untuk melawan"
Saya tidak menuntut lebih, karena tujuan saya memang hanya sekedar membuat mereka tau. Membuat mereka mengerti.
Dengan kembalinya saya ke pergaulan kanan saya sadar ada jarak yang lebar diantara pergaulan kanan dan pergaulan kiri.
Susah sekali mengkomunikasikan secara sederhana sesuatu yang menggebu-gebu dan mengerikan.
(Yang saya tau untuk diri saya sendiri saya belum mau menyerah dan saya masih harus terus mencoba.)
Saya kembali ke pergaulan kiri untuk mendengarkan diskusi dengan keadaan sadar dengan segala kekurangan saya.
Banyak sekali hal yang saya dapati dari mereka. Bukan hal semacam apa, tapi lebih ke kenyataan pada diri saya sendiri.
Misalkan tentang saya yang tidak mengetahui sejarah keluarga saya, yang padahal sejarah tersebut penting untuk mengetahui karakter masing-masing anggota keluarga.
Mereka membuat saya sadar betapa saya tidak peduli terhadap sejarah kecil seperti tersebut yang meskipun kecil tapi telah menjadi kunci permasalahan besar yang selama ini dialami keluarga saya.
Dan parahnya bukan hanya saya, tapi hampir seluruh generasi muda yang mengklaim diri mereka 'modern' dan 'masa kini' menganggap sejarah tidak terlalu penting. Menurut mereka membangun rencana masa depan jauh lebih penting.
Seringkali mereka bercanda dengan berkata; "udah deh, ngapain kamu ngurusin begituan? Mending sekarang kamu usaha aja buat ngerancang masa depan. Lupain masa lalu, tatap masa depan."
Lantas bagaimana kita mau membangun masa depan kalau kita tidak tau sejarah dan karakter bangsa kita sendiri?
Sama seperti dokter; bagaimana caranya seorang dokter bisa mengobati pasien tanpa mengetahui penyakit apa yang diderita oleh pasien tersebut?
Sebagai orang-orang kanan kita pun perlu mengetahui sejarah bangsa sendiri! Sejarah yang sebenarnya terjadi! Bukan yang rekayasa; diciptakan demi kepentingan pribadi atau golongan penguasa!
Tapi pun menurut saya sama bagi pergaulan kiri, mengetahui masa lalu bukan berarti tidak mau mengikuti perkembangan jaman.
Bukan juga berarti harus mengasingkan diri dan tidak berbaur pada pergaulan kanan.
Yang saya pikirkan adalah; kalau orang-orang kiri ini (sebagai yang lebih tau) tidak mau membagi ilmunya kepada orang-orang kanan hanya karena merasa orang-orang kanan tidak sepikiran,tidak mau peduli, itu juga salah.
Bila mereka tidak sepikiran buatlah mereka menjadi sepikiran.
Bila mereka tidak tau, maka buatlah menjadi tau.
Orang-orang kanan hanya tidak tahu, dan mereka butuh diberi tahu.
(Dengan cara mereka, dengan cara yang sederhana. Mereka bukan orang gelisah seperti orang kiri, mereka tidak suka berpikir rumit. Maka beri tahulah dengan cara sederhana, tanpa provokasi, hanya dari hati ke hati.)
Bila mereka tidak tertarik, maka buatlah mereka tertarik.
Sebagai yang lebih tahu, orang-orang kiri berkewajiban membuat tahu orang-orang kanan. Apa pun caranya. Dan tanpa alasan untuk menyerah. Karena tidak ada kata menyerah untuk membuat orang belajar lebih peduli.
Bila terlalu sulit untuk berkomunikasi, mulai dulu dari hal-hal yang menyangkut kepentingan pribadi mereka.
Mulai dari yang sederhana. Ajak mereka untuk merasakan.
Karena nantinya yang membuat sebuah perlawanan kuat adalah keteguhan perasaan.
Akan percuma jika membuat mereka ikut melawan tanpa mengerti keadaan, tanpa bisa merasakan.
Mereka akan mudah dikompori dan diadu domba. Perjuangan akan kembali sia-sia.
Sebab menurut pendapat.
Perasaan empati mereka lah yang akan membuat mereka bergerak; melawan tanpa paksaan.
Perasaan empati mereka lah yang akan membuat mereka tidak mudah di bungkam; meski oleh meriam.
Perasaan empati mereka juga lah yang nantinya akan membuat kita menang; melawan kerakusan dan kebodohan.
Saya berada diantara dua gaya hidup yang sangat berbeda.
Sebutlah satu sisi kanan dan satu sisi kiri.
Sisi kanan kehidupan normal yang nyaman adanya. Penuh dengan pergaulan 'modern'. Penuh dengan teman dan pesta.
Saya tidak pernah menutup pergaulan saya. Menjaga; iya. Saya berusaha menyerap semampu saya semua pelajaran yang ada dilingkungan.
Pada awalnya otak saya sebagai gadis muda masih dipenuhi oleh kenikmatan.
Saya lebih suka keluar diatas jam 8 malam. Mencari keramaian, menikmati hingar bingar. Pergi ke club malam menikmati kebebasan pergaulan.
Itu ketika saya memilih untuk menikmati. Tapi..
Ada kalanya saya muak pada diri saya sendiri. Entah mengapa merasa gelisah.
Teman yang selalu diajak berpesta belum tentu datang seperti yang diharapkan saat berduka.
Jenuh adalah sebuah pilihan.
Saya tipikal orang yang mudah datang, mudah pergi, dan mudah kembali untuk pergi lagi.
Suka dengan pergaulan baru, dan mencoba untuk tidak terlalu lama hanya berada pada satu pergaulan.
Entah kenapa; hanya saja menurut saya semakin lama saya berdiam pada suatu pergaulan, semakin sering bersama, semakin dekat hingga terlalu dekat, akan semakin banyak masalah yang timbul. Ada saja yang menurut saya salah atau kurang; saya (cukup) egois dalam hal tersebut.
Kekurangan atau kesalahan tersebut akan saya cari kebenarannya dipergaulan yang lain. Begitu terus siklusnya.
(Siklus itu juga yang membuat saya merasa kesepian, karena merasa hanya memiliki banyak teman yang belum menjadi sahabat...yang saya sadar itu adalah kesalahan saya sendiri)
Kali ini saya ingin yang lain. Entah mungkin hati saya terpanggil atau hanya bosan dengan pergaulan biasa. Atau juga butuh sesuatu yang ekstrem untuk menghilangkan kejenuhan dari pergaulan sebelumnya.
Dan tibalah saya pada pergaulan kiri radikal, pergaulan yang berbanding terbalik dengan pergaulan kanan. Saya juga belum tahu pasti karena baru saja memulai.
Yang pasti di pergaulan kiri ini orang-orang sangat kritis terhadap sesuatu.
Mereka memiliki rasa empati yang besar terhadap 'keprihatinan'. Yang kurang dapat saya temukan pada pergaulan kanan.
(Sebenarnya pergaulan kanan pun memiliki rasa simpati terhadap sesuatu hanya saja masih jauh lebih mementingkan pribadi atau golongan, lebih individualistis.)
Pergaulan kiri ini memilih untuk lebih berpihak pada suara minoritas, pada rakyat kecil atau orang susah, dan mencoba hidup sederhana melawan kemewahan yang ditawarkan dunia.
Bila diumpamakan, pergaulan kiri seperti tangan kiri yang biasa digunakan untuk membersihkan hal kotor. Seperti membersihkan anus sehabis buang air besar; pekerjaan kotor, yang sebenarnya dilakukan demi kebaikan (kebersihan).
Begitu juga orang-orang dipergaulan kiri ini, menentang jalan normal untuk membersihkan kekotoran-kekotoran penguasa rakus..
Sebenarnya pergaulan kiri sudah pernah saya masuki ketika bertemu dengan para seniman. Hanya saja para seniman menunjukkan ke 'kiri'an mereka melalui karya abstrak yang tidak terlalu terlihat.
Sedangkan beberapa orang yang saya kenal saat ini adalah tipe radikal, yang menyuarakan kegelisahannya secara terang-terangan; aktivis.
Untuk seniman sendiri masih lebih mudah karena mereka tidak mencoba menjejali saya dengan sesuatu.
Mereka lebih suka menunjukan suatu keindahan (artistik) yang walaupun keindahan tersebut menyakitkan.
Dan keindahan lebih mudah diterima oleh orang seperti saya.
Berbeda dengan pergaulan kiri radikal ini.
Disini saya mencoba memutar kehidupan saya. Menjadi lebih sabar, mencoba mendengarkan penjelasan panjang lebar.
Ilmu politik, sosial, budaya, sejarah, antropologi, ekonomi rakyat dan berbagai macam.
Yang dulunya saya tak mau sentuh tak mau peduli dengan terpaksa harus saya mulai jamahi.
Pembicaraan mereka hampir semua tidak saya mengerti kecuali soal kerusakan lingkungan dan pendidikan anak.
Saya disarankan untuk membaca buku-buku tebal peneliti besar.
Saya bersabar mendengarkan diskusi-diskusi panjang lebar, yang memaksa saya duduk diam sampai pantat terasa ber-akar.
(Ada kalanya kepala saya terasa sakit, otak saya rasanya mau pecah, saking penuhnya pelajaran yang mereka berikan.)
Proses.
Saya tidak lantas mau mengikuti semuanya. Karena saya kaget dan masih merasa curiga.
Awalnya saya masuk karena penasaran pada suatu issue. Saya mencoba datang untuk mendengarkan beberapa penjelasan.
Yang anehnya walau dijelaskan berjam-jam saya belum bosan dan malah semakin penasaran.
Saya jadi semakin sering datang bertandang. Hanya untuk mendengarkan.
Sampai dirumah saya ingat kembali, saya coba cermati dan amati. Mencari info-info yang bisa saya dapat.
Dan akhirnya saya terjerumus dalam aksi radikal mereka.
Bukan tanpa alasan bukan tanpa pengetahuan. Tapi secara sadar.
Ada resiko besar di depan mata. Tapi perubahan yang terjadi di diri saya lebih besar, lebih mampu melahap ketakutan saya terhadap resiko tersebut.
Hampir satu minggu diawal perkenalan saya menginap di tempat mereka.
Hanya mendengarkan mereka berbicara beberapa hari saja ternyata membuat hati saya bergejolak entah kenapa.
Saya semakin penasaran.
Saya mencoba mulai membaca satu buku yang disarankan. Ternyata memang buku untuk pemula.
Hanya satu hari saya habiskan.
Buku itu semacam komik sejarah tentang perjuangan Che Guevara memimpin revolusi.
Saya semakin menggebu-gebu. Ada perubahan sudut pandang.
Proses masih berlangsung.
Saya mulai mencari tahu tentang apa yang mereka bicarakan.
Mulai aktif bertanya. Dan itu cukup membantu.
Efeknya; saya jadi semakin ingin tahu.
Semakin saya tahu, semakin saya merasa bodoh.
Kemana saja saya selama ini sampai tidak mengetahui hal-hal g(p)enting seperti itu?
Sempat beberapa kali sharing tentang keadaan pemerintahan, dan saya shock. Perasaan marah dan sedih menjadi satu. Entah hanya sensitif atau emosi menghadapi kenyataan yang jauh lebih mengerikan dari yang diberitakan media.
Saya bukannya menerima semua pembicaraan orang-orang pergaulan kiri ini secara mentah-mentah. Tapi saya telah coba buktikan sendiri.
Dan bahkan media sendiri kadang berulah, membuat saya kecewa.
Memutar balikkan fakta yang ada.
Lebih kecewa lagi ketika tau; media besar yang dipercaya rakyat ternyata dapat dibungkam demi kepentingan pribadi/golongan penguasa.
Mungkin sudah banyak orang yang tau pemutar balikkan fakta ini.
Yang saya heran, kenapa orang-orang yang lebih dulu tau ini tidak bergerak melawan? Hanya pasrah pada keadaan?
Atau malah... sudah dibungkam juga?
Saya terlalu penasaran.
Saya mencoba tetap berpikir seimbang.
Akhirnya saya mendapati musuh terlalu besar dan berkuasa. Terlalu beresiko untuk dilawan sendirian.
Saya kembali ke pergaulan kanan, mencoba membagi apa yang saya dapat dari teman-teman kiri.
Ketika kembali ke pergaulan kanan, belum masuk ke pembicaraan pokok, saya sudah merasa ada jarak diantara saya dan teman-teman pergaulan kanan yang dulu sangat dekat dengan saya.
Disini saya sadar, saya mulai berubah.
Tidak mudah untuk menyampaikan apa yang saya dapat dari pergaulan kiri ke pergaulan kanan.
Butuh proses.
Dan saya mendapati kebiasaan ketika seseorang merasa lebih tau ia akan menggebu-gebu dan sulit sekali mengontrol perasaan tersebut untuk bisa menyampaikan sesuatu tanpa menimbulkan rasa kontra berlebihan.
Saya terlalu emosi saat menyampaikan apa yang saya dapat, saya kesal karena mereka tak kunjung mengerti, tak kunjung sadar.
Dan kembali saya merasa bodoh.
Mengapa saya menggunakan emosi saat berbicara dan berdiskusi? Padahal saya adalah alumnus sekolah komunikasi. Saya merasa konyol.
Kembali saya belajar.
Untung saja teman-teman pergaulan kanan akhirnya bisa lebih sabar menghadapi saya yang sedang penuh gejolak.
Mereka akhirnya mau mengerti dan sependapat. Hanya saja belum berani untuk melawan secara langsung.
Menurut mereka; "setiap orang punya cara masing-masing untuk melawan"
Saya tidak menuntut lebih, karena tujuan saya memang hanya sekedar membuat mereka tau. Membuat mereka mengerti.
Dengan kembalinya saya ke pergaulan kanan saya sadar ada jarak yang lebar diantara pergaulan kanan dan pergaulan kiri.
Susah sekali mengkomunikasikan secara sederhana sesuatu yang menggebu-gebu dan mengerikan.
(Yang saya tau untuk diri saya sendiri saya belum mau menyerah dan saya masih harus terus mencoba.)
Saya kembali ke pergaulan kiri untuk mendengarkan diskusi dengan keadaan sadar dengan segala kekurangan saya.
Banyak sekali hal yang saya dapati dari mereka. Bukan hal semacam apa, tapi lebih ke kenyataan pada diri saya sendiri.
Misalkan tentang saya yang tidak mengetahui sejarah keluarga saya, yang padahal sejarah tersebut penting untuk mengetahui karakter masing-masing anggota keluarga.
Mereka membuat saya sadar betapa saya tidak peduli terhadap sejarah kecil seperti tersebut yang meskipun kecil tapi telah menjadi kunci permasalahan besar yang selama ini dialami keluarga saya.
Dan parahnya bukan hanya saya, tapi hampir seluruh generasi muda yang mengklaim diri mereka 'modern' dan 'masa kini' menganggap sejarah tidak terlalu penting. Menurut mereka membangun rencana masa depan jauh lebih penting.
Seringkali mereka bercanda dengan berkata; "udah deh, ngapain kamu ngurusin begituan? Mending sekarang kamu usaha aja buat ngerancang masa depan. Lupain masa lalu, tatap masa depan."
Lantas bagaimana kita mau membangun masa depan kalau kita tidak tau sejarah dan karakter bangsa kita sendiri?
Sama seperti dokter; bagaimana caranya seorang dokter bisa mengobati pasien tanpa mengetahui penyakit apa yang diderita oleh pasien tersebut?
Sebagai orang-orang kanan kita pun perlu mengetahui sejarah bangsa sendiri! Sejarah yang sebenarnya terjadi! Bukan yang rekayasa; diciptakan demi kepentingan pribadi atau golongan penguasa!
Tapi pun menurut saya sama bagi pergaulan kiri, mengetahui masa lalu bukan berarti tidak mau mengikuti perkembangan jaman.
Bukan juga berarti harus mengasingkan diri dan tidak berbaur pada pergaulan kanan.
Yang saya pikirkan adalah; kalau orang-orang kiri ini (sebagai yang lebih tau) tidak mau membagi ilmunya kepada orang-orang kanan hanya karena merasa orang-orang kanan tidak sepikiran,tidak mau peduli, itu juga salah.
Bila mereka tidak sepikiran buatlah mereka menjadi sepikiran.
Bila mereka tidak tau, maka buatlah menjadi tau.
Orang-orang kanan hanya tidak tahu, dan mereka butuh diberi tahu.
(Dengan cara mereka, dengan cara yang sederhana. Mereka bukan orang gelisah seperti orang kiri, mereka tidak suka berpikir rumit. Maka beri tahulah dengan cara sederhana, tanpa provokasi, hanya dari hati ke hati.)
Bila mereka tidak tertarik, maka buatlah mereka tertarik.
Sebagai yang lebih tahu, orang-orang kiri berkewajiban membuat tahu orang-orang kanan. Apa pun caranya. Dan tanpa alasan untuk menyerah. Karena tidak ada kata menyerah untuk membuat orang belajar lebih peduli.
Bila terlalu sulit untuk berkomunikasi, mulai dulu dari hal-hal yang menyangkut kepentingan pribadi mereka.
Mulai dari yang sederhana. Ajak mereka untuk merasakan.
Karena nantinya yang membuat sebuah perlawanan kuat adalah keteguhan perasaan.
Akan percuma jika membuat mereka ikut melawan tanpa mengerti keadaan, tanpa bisa merasakan.
Mereka akan mudah dikompori dan diadu domba. Perjuangan akan kembali sia-sia.
Sebab menurut pendapat.
Perasaan empati mereka lah yang akan membuat mereka bergerak; melawan tanpa paksaan.
Perasaan empati mereka lah yang akan membuat mereka tidak mudah di bungkam; meski oleh meriam.
Perasaan empati mereka juga lah yang nantinya akan membuat kita menang; melawan kerakusan dan kebodohan.
Sunday, September 15, 2013
Star Syndrome
Dimata semua orang kami terlihat sibuk berbagi.
Pemberontak kecil-kecilan yang memperjuangkan kelayakan orang terpencil.
Media mulai mencecar, mencari kebaikan kami untuk dipublikasikan
besar-besaran. Tanpa mempedulikan mental kami yang belum siap berada
diatas awan. Angin terlalu kencang, belum sampai puncak langkah kami
sudah terseok-seok. Bukan dari luar tapi dari dalam.
"Semua yang berpondasi lemah pasti akan runtuh".
Dan itu benar. Mental kami bobrok. Terbawa pencitraan media. Pujian demi pujian lewat di depan mata dan masuk ke telinga. Membuat kami jadi besar kepala. Berbagi yang dulunya dari hati kini sekedar mempertahankan eksistensi. Visi dan misi mulai berubah. Sedikit demi sedikit kami kehilangan jati diri. Orang-orang kini bahkan tidak lagi peduli hati kami, dipandangan mereka kami adalah pejuang. Padahal dikenyataannya kami hanya orang biasa yang sedang tersanjung oleh media.
Kami butuh hati kami kembali utuh, jangan puji kami berlebihan. Memunculkan ego dan kesombongan. Membuat lupa daratan dan tujuan awal. Sedangkan kami bukan siapa-siapa, umur yang belum seberapa. Mental yang labil ditumpangi sana-sini hanya untuk memperbesar nama. Jika benar ingin berbagi, siapa berani jauhkan media?
Kami belum siap untuk menjadi terlalu besar dalam sekejap. Raja hutan pun perlu waktu untuk belajar berjalan. Kami hanya manusia, sewaktu bisa lupa diri. Jangan terlalu percaya. Tetap awasi gerak-gerik kami. Karena kami hanya 'anak' dan kalian berperanlah sebagai orang tua yang mendidik dan mengawasi kami. Memarahi jika kami salah, mengusap punggung kami ketika kami lelah. Jangan menggunakan kami berlebihan atau memanjakan kami dengan pujian. Beri kami motivasi maju bukan dengan banyak memuji. Biarkan kami dibawah tanah, burung pun akan lelah bila terus terbang diatas awan. Angin terlalu kencang diatas sana, udara terlalu dingin. Kami belum siap. Biarkan kami hangat menyentuh tanah dan merakyat.
"Semua yang berpondasi lemah pasti akan runtuh".
Dan itu benar. Mental kami bobrok. Terbawa pencitraan media. Pujian demi pujian lewat di depan mata dan masuk ke telinga. Membuat kami jadi besar kepala. Berbagi yang dulunya dari hati kini sekedar mempertahankan eksistensi. Visi dan misi mulai berubah. Sedikit demi sedikit kami kehilangan jati diri. Orang-orang kini bahkan tidak lagi peduli hati kami, dipandangan mereka kami adalah pejuang. Padahal dikenyataannya kami hanya orang biasa yang sedang tersanjung oleh media.
Kami butuh hati kami kembali utuh, jangan puji kami berlebihan. Memunculkan ego dan kesombongan. Membuat lupa daratan dan tujuan awal. Sedangkan kami bukan siapa-siapa, umur yang belum seberapa. Mental yang labil ditumpangi sana-sini hanya untuk memperbesar nama. Jika benar ingin berbagi, siapa berani jauhkan media?
Kami belum siap untuk menjadi terlalu besar dalam sekejap. Raja hutan pun perlu waktu untuk belajar berjalan. Kami hanya manusia, sewaktu bisa lupa diri. Jangan terlalu percaya. Tetap awasi gerak-gerik kami. Karena kami hanya 'anak' dan kalian berperanlah sebagai orang tua yang mendidik dan mengawasi kami. Memarahi jika kami salah, mengusap punggung kami ketika kami lelah. Jangan menggunakan kami berlebihan atau memanjakan kami dengan pujian. Beri kami motivasi maju bukan dengan banyak memuji. Biarkan kami dibawah tanah, burung pun akan lelah bila terus terbang diatas awan. Angin terlalu kencang diatas sana, udara terlalu dingin. Kami belum siap. Biarkan kami hangat menyentuh tanah dan merakyat.
Wednesday, June 26, 2013
Long Distance (and) RelationShit
LDR itu punya makna. Kalo bisa lewatin LDR hubungan kalian selanjutnya (kemungkinan besar) bisa jadi lebih mudah. :) Gacuma LDR sih, hubungan jarak dekat pun harus dilandasin dengan kepercayaan.Tapi ada yang lebih penting dari sekedar percaya sama pasangan. Yaitu, ikhlas dalam menjalani suatu hubungan. Kalo gue jujur, gabisa yang namanya percaya-percaya banget sama satu orang walaupun dia pasangan gue. Karena yang namanya orang pasti pernah KHILAF. :) dan ngecewain pasangannya. Maka dari itu gue bilang. Gaperlu terlalu percaya sama pasangan tapi kalian kudu ikhlas cinta sama dia. Karena kalau kalian terlalu nuntut ini itu sama pasangan, ujung-ujungnya (hampir pasti) bakal kecewa. :) Karena pasangan kalian belum tentu bisa menuhin semua tuntutan kalian.
Dengan kalian ikhlas kalian gabakal terlalu sakit hati. Karena udah tau suatu saat pasti bakal ngalamin. Kalo pasangan kalian bilang bakal setia sampe mati sama kalian. Itu BULLSHIT. Karena toh kalo ada yang cakep lewat pasti bakal noleh juga. :) Kalo ada yang body nya yahud lewat pasti bakal diomongin juga. (diomonginnya engga sama kalian emang, tapi ya ama temen-temennya lah)
Percaya sama pasangan itu cukup 50% aja. Tapi, kalo kalian curiga. Gaperlu ditunjukin. cukup disimpan dalam hati aja. :) Itu ngebantu untuk ngejaga hubungan kalian. Asal pasangan emang bener pantes buat dicintain dengan ikhlas.
Kalian dengan jelas. Gabisa nuntut pasangan kalian buat nurutin semua yang kalian minta. Ingat. Pasangan kalian punya hidupnya sendiri. :) Meskipun kalian adalah satu pasangan. Kalian tetep 2 individu yang berbeda. Kalian bukan Rexona yang bisa selalu setia setiap saat.
Sometimes dalam satu hubungan pasti ada yang namanya masa jenuh. Dan itu wajar. Disaat jenuh kalian boleh banget kok ga ketemu dulu ama pasangan. Bahkan kalian boleh cari orang lain buat diajak jalan. Temen yang gue maksud itu semacam "temen jalan" (re: teman tapi mesra). Biasanya dengan kalian ketemu "temen jalan" kalian bisa sadar bahwa pasangan kalian yang sekarang adalah yang terbaik (atau tidak). Kalian secara sadar atau ga sadar bakal ngebandingin "teman jalan" dengan pasangan kalian yang sekarang. Itu cuma sekedar perbandingan, buat open minded aja. Berdasarkan yang gue alamin dulu sih. Pasangan gue masih yang terbaik dari "temen-temen jalan" yang gue punya dan itu ngebuat gue lebih ngehargain keberadaan dia di hidup gue (lebih cinta banget). Kalopun pasangan gue bukan yang terbaik. Seengganya, udah buat gue sadar dan punya alasan buat nge-akhirin hubungan kami. Intinya kita masih muda. Jangan terlalu serius lah kalo pacaran. Nyobain berbagai karakter orang itu wajar. Dengan kalian mengenal banyak karakter. Tanpa sadar karakter kalian juga makin kuat dan makin dewasa dalam nyikapin masalah apapun termasuk dalam hubungan kalian. Kalo sudah punya karakter kuat dan dewasa dalam nyikapin masalah baru kalian boleh ngejalanin yang namanya hubungan serius. Karena dalam masanya penghargaan seseorang pada sebuah komitmen dalam suatu hubungan, tergantung pada tingkat kematangan karakter dari orang itu sendiri. Sampai pada, kalian sudah cukup matang untuk menikah. :)
Yang pasti mending main-main dan selingkuh pas pacaran dari pada pas udah nikah kan??
Sunday, September 2, 2012
Darah Lebih Kental dari pada Air
Malam ini, segenap keluarga 'orang lama' pulang kerumah.. Secara mendadak tanpa persiapan aku sambut mereka, berusaha hangat.. Keadaan yang begitu berubah membuat mereka mengeluh.. Keluhan yang tak indah ditelingaku.. Aku tinggal beberapa saat untuk menyambut mereka.. Namun setelahnya aku lebih memilih pulang kerumah ibuku.. Pikiranku keruh.. Mereka baik, tapi tak dapat membuatku nyaman dan dapat tinggal bersisian dengan mereka.. Aku menyayangi mereka tapi bukan untuk memanjakan.. Aku tau mereka lelah dan keluargaku pun lelah.. Lelah dengan semua keadaan yang memojokkan.. Betapa keluarga yang tak utuh bisa memberikan dampak yang besar bagi mental seseorang..
Aku pulang kerumah ibuku dengan tawa yang dipaksakan, mencoba membuat canda dan dilahap dengan cermat, tak beberapa saat aku mulai mengeluh pada ibuku.. Yang berujung sebuah perdiskusian dan pengakuan.. Mencoba untuk saling bertukar pikiran.. Namun yang kurasakan adalah ego kami masing-masing.. Betapa susahnya untuk mengakui kesalahan dan menahan untuk tidak membela diri.. Semua yang kumulai dengan keluhanku dan berujung tangisanku.. Betapa lemah aku menghadapi ini..
Ketika celaan dari 'orang lama' menghujani ayahku.. Ya ayahku memang tak sekuat ayah orang lain.. Itu dikarenakan rapuhnya masa kecilnya.. Betapa tak ada orang yang membelanya, betapa tak ada orang yang dapat menjadi sandaran hidupnya sedari kecil.. Ia pendam semuanya berusaha tabah dan tidak melawan.. Satu kesalahannya hanyalah mudah menyerah.. Dan tak berbuat apa-apa.. Tapi kalaupun aku jadi dia mungkin aku juga bingung, terdesak antara tanggung jawab dan hujatan.. Tersiksa karena "darah lebih kental dari pada air" sama seperti yang aku alami saat ini.. Mengapa begitu tak adil bagi air? Ketika air lebih banyak berada di tubuh manusia dan air selalu dipandang sebelah mata.. Tidakkah tau bahwa tubuh manusia lebih banyak mengandung air dari pada darah?? Tidakkah merasa air begitu banyak memberi kehidupan?? Darah tidak menghidupi semua makhluk! Tapi air?? Apa yang tak dihidupi oleh air?? Tapi mengapa air diabaikan? Bukan berarti karena air terus mengalir air tidak akan habis.. Sama sepertiku, ayahku dan keluargaku yang mengikhlaskan menghidupimu dengan kasih sayang padahal darahmu tak menunjukkan kepedulian sebesar kami peduli padamu..
Ibuku merelakan aku mengabdi padamu, padahal saat ini seharusnya menjadi saat untuk ibuku menuai apa yang ditanamkannya padaku sejak kecil..
Aku merelakan kebebasanku, pergaulanku dan masa mudaku untuk merawatmu.. Walaupun masih banyak kesalahan dan kemalasan yang aku perbuat, tak sadarkah kau? Kebebasan adalah segalanya untukku, tapi aku relakan demi hidupmu dan kau bilang sebenarnya kau tak butuh aku.. Pada kenyataan beberapa saat aku pergi kau sudah panik dan menyuruhku segera pulang untuk melakukan ini itu.. Aku sabarkan hatiku.. Menurunkan egoku, meredam amarahku, mengorbankan beberapa pekerjaanku.. Bukan karena materi yang kau miliki.. Aku bersamamu karena merasa kau adalah salah satu tanggung jawab dalam hidupku.. Dan keluargaku merelakan itu.. Tak dapatkah kau dan keluargamu memperlakukan aku dan keluargaku lebih baik?? Bukan dari sekedar membayar materi pada kami.. Atau mungkin memang pantas kau perlakukan kami seperti ini.. Setelah sekian hutang budi yang kami buat padamu.. Bila 'orang lama' kandungku masih hidup.. Akankah keluargamu memperlakukan keluargaku seperti ini? Mungkin memang "darah lebih kental dari pada air"..
Aku pulang kerumah ibuku dengan tawa yang dipaksakan, mencoba membuat canda dan dilahap dengan cermat, tak beberapa saat aku mulai mengeluh pada ibuku.. Yang berujung sebuah perdiskusian dan pengakuan.. Mencoba untuk saling bertukar pikiran.. Namun yang kurasakan adalah ego kami masing-masing.. Betapa susahnya untuk mengakui kesalahan dan menahan untuk tidak membela diri.. Semua yang kumulai dengan keluhanku dan berujung tangisanku.. Betapa lemah aku menghadapi ini..
Ketika celaan dari 'orang lama' menghujani ayahku.. Ya ayahku memang tak sekuat ayah orang lain.. Itu dikarenakan rapuhnya masa kecilnya.. Betapa tak ada orang yang membelanya, betapa tak ada orang yang dapat menjadi sandaran hidupnya sedari kecil.. Ia pendam semuanya berusaha tabah dan tidak melawan.. Satu kesalahannya hanyalah mudah menyerah.. Dan tak berbuat apa-apa.. Tapi kalaupun aku jadi dia mungkin aku juga bingung, terdesak antara tanggung jawab dan hujatan.. Tersiksa karena "darah lebih kental dari pada air" sama seperti yang aku alami saat ini.. Mengapa begitu tak adil bagi air? Ketika air lebih banyak berada di tubuh manusia dan air selalu dipandang sebelah mata.. Tidakkah tau bahwa tubuh manusia lebih banyak mengandung air dari pada darah?? Tidakkah merasa air begitu banyak memberi kehidupan?? Darah tidak menghidupi semua makhluk! Tapi air?? Apa yang tak dihidupi oleh air?? Tapi mengapa air diabaikan? Bukan berarti karena air terus mengalir air tidak akan habis.. Sama sepertiku, ayahku dan keluargaku yang mengikhlaskan menghidupimu dengan kasih sayang padahal darahmu tak menunjukkan kepedulian sebesar kami peduli padamu..
Ibuku merelakan aku mengabdi padamu, padahal saat ini seharusnya menjadi saat untuk ibuku menuai apa yang ditanamkannya padaku sejak kecil..
Aku merelakan kebebasanku, pergaulanku dan masa mudaku untuk merawatmu.. Walaupun masih banyak kesalahan dan kemalasan yang aku perbuat, tak sadarkah kau? Kebebasan adalah segalanya untukku, tapi aku relakan demi hidupmu dan kau bilang sebenarnya kau tak butuh aku.. Pada kenyataan beberapa saat aku pergi kau sudah panik dan menyuruhku segera pulang untuk melakukan ini itu.. Aku sabarkan hatiku.. Menurunkan egoku, meredam amarahku, mengorbankan beberapa pekerjaanku.. Bukan karena materi yang kau miliki.. Aku bersamamu karena merasa kau adalah salah satu tanggung jawab dalam hidupku.. Dan keluargaku merelakan itu.. Tak dapatkah kau dan keluargamu memperlakukan aku dan keluargaku lebih baik?? Bukan dari sekedar membayar materi pada kami.. Atau mungkin memang pantas kau perlakukan kami seperti ini.. Setelah sekian hutang budi yang kami buat padamu.. Bila 'orang lama' kandungku masih hidup.. Akankah keluargamu memperlakukan keluargaku seperti ini? Mungkin memang "darah lebih kental dari pada air"..
Saturday, September 1, 2012
Aku Hanyalah Aku
Aku hanyalah seorang aku..
Aku dapat melakukan apapun ketika membenci seseorang, bahkan kehilangan akal sehingga melukai diriku sendiri..
Berbicara tanpa pikir, mencurahkan apa saja yang ada di hati dan otakku..
Berlaku layaknya aku yang paling benar..
Berkali aku ingatkan diriku berkali pula aku melakukan kesalahan yang sama..
Aku dapat mengomentari apapun tentang perilaku seseorang tanpa berkaca terlebih dahulu..
Tanpa melihat bahwa sebenarnya aku melakukan hal yang sama..
Aku hanyalah aku, manusia normal yang selalu iri akan kemolekan manusia lain..
Aku membencinya karena dia memiliki segalanya yang melukai kepercayaan diriku..
Aku hanyalah aku, manusia yang suka membenarkan apa yang ia perbuat..
Tidak suka jika disalahkan dan selalu mengajukan pembenaran ketika di kritik..
Aku hanyalah aku, manusia yang berkata sabar di muka umum tapi akan menghina dan menyindir dibelakang..
Aku hanyalah aku, manusia yang selalu mencari nama baik dengan cara yang tidak baik..
Aku hanyalah aku, manusia yang dapat membuat sebuah tulisan yang tak bermakna untuk menghabiskan waktuku..
Aku hanyalah seseorang yang suka berada diduniaku, dunia yang membebaskanku berkeluh kesah..
Aku hanya manusia yang suka berkeluh kesah..
Bahkan sekarang aku menjadi manusia yang kehabisan kata-kata untuk berkeluh kesah..
Aku dapat melakukan apapun ketika membenci seseorang, bahkan kehilangan akal sehingga melukai diriku sendiri..
Berbicara tanpa pikir, mencurahkan apa saja yang ada di hati dan otakku..
Berlaku layaknya aku yang paling benar..
Berkali aku ingatkan diriku berkali pula aku melakukan kesalahan yang sama..
Aku dapat mengomentari apapun tentang perilaku seseorang tanpa berkaca terlebih dahulu..
Tanpa melihat bahwa sebenarnya aku melakukan hal yang sama..
Aku hanyalah aku, manusia normal yang selalu iri akan kemolekan manusia lain..
Aku membencinya karena dia memiliki segalanya yang melukai kepercayaan diriku..
Aku hanyalah aku, manusia yang suka membenarkan apa yang ia perbuat..
Tidak suka jika disalahkan dan selalu mengajukan pembenaran ketika di kritik..
Aku hanyalah aku, manusia yang berkata sabar di muka umum tapi akan menghina dan menyindir dibelakang..
Aku hanyalah aku, manusia yang selalu mencari nama baik dengan cara yang tidak baik..
Aku hanyalah aku, manusia yang dapat membuat sebuah tulisan yang tak bermakna untuk menghabiskan waktuku..
Aku hanyalah seseorang yang suka berada diduniaku, dunia yang membebaskanku berkeluh kesah..
Aku hanya manusia yang suka berkeluh kesah..
Bahkan sekarang aku menjadi manusia yang kehabisan kata-kata untuk berkeluh kesah..
Thursday, August 23, 2012
Abstrak
Tuhan aku semakin tak tau arah hidupku, semakin aku menjalaninya semakin aku tak tau harus pergi kemana, terlalu banyak hal yg membuatku bingung.. Apa sebenarnya makhluk yang disebut manusia? Mengapa mereka menyakiti sesama? Mengapa mereka begitu dikuasai nafsu? Aku semakin tidak mengerti mereka, bahkan aku! Aku adalah manusia tuhan! aku bingung harus menjalani hidup seperti apa? Mengapa aku terlalu mudah untuk dipengaruhi? Mengapa pikiranku tidak bisa berhenti dan memilih jalan mana yang akan kutempuh? Mengapa aku ragu? Tentang agama, realita, dimensi, alam, kehidupan dan kematian, mana yang benar??? Aku semakin tak paham bahkan aku tak mengerti mana yang imajinasi mana yang nyata.. Imajinasi itu terlalu masuk akal untuk disebut fiksi.. Manusia terlalu banyak membuat aturan! Yang saking banyak aturan yang mereka buat hingga mereka lupa pada aturan tersebut dan justru merekalah yang melanggar dan memaafkan sesukanya, mereka tak mengindahkan peraturan yang mereka buat tuhan!! Pemikiranku bercabang, aku tak dapat berkonsentrasi pada kehidupan.. Perasaanku kacau.. Berubah hanya dalam beberapa saat, menangis kemudian tertawa, menangis lagi begitu seterusnya.. Tanpa sebab.. Aku kehilangan diriku tuhan.. Aku bingung bahkan membatasi diri berdekatan dengan orang, aku bingung tuhan, aku tak dapat lagi mengambil alih hidupku.. Aku terkungkung pada suatu keadaan dimana keluarga menjadi prioritas, tapi hatiku merasa tak nyaman tuhan.. Bukankah insting manusia kuat? Bukankah saat melakukan kesalahan hati merasa tak nyaman tuhan?? Dan saat ini aku benar-benar merasa tak nyaman.. apakah aku sedang berada dalam sebuah kesalahan?? Banyak sekali pikiran berkelebat dikepalaku, ketika gambaran tentang keluarga yang bahagia mulai muncul, tetibanya terpotong oleh tangisan dan teriakan yang aku tak tahu dari mana asalnya, klebatan orang-orang dan alam yang tersiksa, begitu juga sebaliknya, saat aku membayangkan diriku tengah memberikan hidupku pada alam, bayangan keluarga ku berkelebat dengan segenap kemurkaan dan kekecewaan mereka.. Aku ingin kaya tuhan, dan menghidupi keluargaku, tapi untuk menunggu aku berlimpah harta akan banyak sekali waktuku terbuang, waktu yang seharusnya kupakai untuk menolong alam, akan berapa hal kah yang akan kukorbankan untuk menjadi sesorang yang bergelimang harta, aku ingin keluargaku bahagia tapi aku merasa tak adil bagi mereka yang tak bahagia.. Terlalu banyak yang akan aku korbankan demi bergelimang harta.. Adakah alternatif lain membuat keluargaku bahagia tuhan??? Kau bisa rasakan tuhan betapa bercabangnya pikiranku?? Kau membuat sakit dan bahagia secara bersamaan di pikiranku, terlalu sama hingga aku bingung tengah merasakan yang mana..
Wednesday, May 30, 2012
Broken was broken
You have to know, IDOL Boy approaches with not only one girl, that would be more than one maybe two or three.. Then IDOL boy will be compare all part of that girl like their face their style their body their rich even their CUP!!! So if an IDOL boy approaches you, don’t be over confidence or don’t be so GLAD and think he choose you from all girl who loves him, because I think you aren’t the only one, even though he looks so NICE, so HONEST, so POLITE, has many good things and talents, once more time DON’T BE OVER CONFIDENCE AND GLAD that can be JUST a DISGUIRE or a MASK because when boy does their approach he’ll be show the best, tries to hide all of his bad he just does all politely.. He gives you many SWEET words, makes your heart beat so fast, makes you fall in love with him, and makes your heart fly so high, makes you feel like you are the only one, and trust he’ll be serious with his words, then you trust him and LAST you choose to GIVE EVERYTHING you have to him.. ohh that would be the most beautiful time that you ever had.. Feel like you’re fly above the sky and the sky full off flower-clouds.. BUT BANG!! He LEAVES you when he gets all of you, cuts your relationship with him and does a date with another girl just a few times when he cutting your relation with him, see?? I believe when it happening you feel like wanna kill yourself and crying loudly..
IDOL boy doesn’t need a long time to take your heart.. Because he has many experiences to make his fans fallin’ in love with him.. And to takes your heart and attention is easy for him.. He just need a little slot and then he is fully your brain with him..
Tuesday, May 29, 2012
Senandung Keluarga Rumit
Seberapa pun mandirimu, seberapa pun usaha mu untuk lepas dari keluarga, itu tak akan berhasil karena terikat darah.
Seberapa pun mandirimu tetap memiliki hutang pada keluargamu.
"Jika tidak punya lebih baik meminta secara terhormat dari pada pada akhirnya diberi belas kasihan"
Apa salah bila ingin berusaha lebih dulu?? Pikiran ini langsung berkecamuk ketika aku mendengarkan pendapat itu
Dan akhirnya aku terjebak dalam kerumitan dua kalimat pernyataan, jadi jika tidak bisa harus tetap berusaha atau harus meminta??
Bukankah meminta termasuk dalam kategori manja?? Aku tidak ingin dikatai manja, mungkin ini yang disebut oleh orang-orang jaman dulu sebagai masa pembuktian diri bocah jaman sekarang, tidak ingin dikatai manja tapi pada kenyataannya banyak dari mereka tidak menghasilkan apa-apa, rumit? Ya aku juga merasa begitu..
Hanya ingin berbagi pelajaran yang ku dapat saat ini agar bisa dipikirkan kembali jika suatu saat ini menimpa..
Pertanyaan atau Penyataan??
Perkataan orang masa lalu terkadang memperbaiki keadaan namun terkadang menyesatkan.
Banyak hal pada saat itu yang ingin aku catat tapi susah sekali untuk mengingat sama ketika ada
banyak hal yang ingin aku perbaiki tapi susah sekali untuk dijalani.
Semua rangkaian kata-kata absurd yang keluar begitu saja dari bibirnya tidak memiliki alur
Susah sekali untuk diresapi, sebuah deskripsi dan narasi lantang yang susah diterima oleh hati, tapi itu adalah sebuah kenyataan.
Menikam tepat di jantung ku, tak dapat mengelak ketika Ia dengan frontal membeberkan betapa lemahnya mental ayahku.
Alunan sejarah keluarga yang terdengar indah pada masanya namun pahit pada akhirnya, ketika kejayaan masih digenggam hingga sekarang terbalik dikhianati oleh kejayaan.
Memiliki tanggung jawab besar ketika nanti sudah tersadar, tapi kapan?? Aku juga tidak tahu
Pertanyaan atau pernyataan? Aku tak tau mana yang harus aku ungkapkan lebih dulu
Kata-kata itu telah menyeretku ke alam pikiran yang rumit antara masa depan dan masa lalu ketika jaman masih dipimpin oleh keperkasaan lelaki
Ketika wanita dengan mudahnya akan menyerah dan menggantungkan semuanya kepada lelakinya
Ketika lelaki masih memiliki kehormatan dibanggakan untuk memimpin keluarga
Ketika lelaki pergi menafkahi keluarga dan bahkan berperang mempertaruhkan nyawa, saat itu wanita lebih diuntukkan keluarga dan dapur.
Tapi sekarang Ibuku? Bibiku? Nenekku? Dan kebanyakan wanita lainnya harus bertanggung jawab terhadap lelakinya.
Tak heran jika suatu saat nanti lelaki lah yang dihamili oleh wanita.
Benarkah wanita masa kini terlalu memanjakan lelakinya?? Jangan tersinggung, ini hanya sebuah pertanyaan yang berputar dikepala.
Dengan adanya emansipasi bukan berarti lelaki boleh bersantai melihat wanita bekerja. :)
Rindu
Berkecamuk luka dalam menyeruak di tengah malam
Omongan orang-orang lama yg pekat di otak semakin tajam menikam
Hati memberontak tapi tak dapat menyeruak
Tiba dalam kelarutan malam
Ketika terdengar sayup-sayup suara memanggil lirih
Seperti merindu tapi tak ingin muncul didapati
Seperti merindu tapi tak ingin muncul didapati
Rasa perih dihati pelan semakin perih
Menggenggam masa lalu dalam ingatan
Rasa sayang yang hilang ditelan tanggung jawab
Merindu ketika tak harus memikul beban berat
Memeluk erat
Terlelap pekat
Tangisan gelap dalam pelukan adik yang erat
Subscribe to:
Posts (Atom)
